Senin, 09 Januari 2012

Kuliner Khas Lombok


Pelecing Kangkung 


Menu makanan khas Lombok yang satu ini merupakan menu sehari-hari orang Sasak yang bisa kita jumpai hampir di setiap hidangan acara apapun. Sajian ini merupakan pembuka selera makan dengan rasa pedas. Bahkan ada pameo bahwa sampai keluar air liur kalau melihat pelecing kangkung ini. Wah!
Bagi masyarakat Lombok, sajian pelecing ini merupakan menu makanan turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Tidaklah mengherankan bila di pinggir-pinggir jalan pelecing banyak dijual oleh ibu-ibu untuk dijadikan lauk pauk menjelang santap siang maupun malam. Demikian juga di kedai-kedai kecil, warung makan sampai ke restoran hingga hotel-hotel berbintang di Lombok sudah pasti bisa didapatkan sajian menu pelecing.
Pelecing adalah makanan sederhana tapi mempunyai cita rasa yang khas. Tidaklah susah membuatnya, yang penting bahan utamanya sudah ada yaitu kangkung, tapi ingat bukan sembarang kangkung. Kangkung yang digunakan haruslah kangkung lombok, karena kangkung lombok berbeda dengan kangkung daerah lainnya. Rasanya yang renyah dan gurih yang membedakannya daripada kangkung dari daerah lain. Penanaman kangkung Lombok biasanya di lahan perairan seperti sungai yang mengalir dan kolam sehingga sirkulasi air untuk pertumbuhan kangkung menjadi lebih subur. Tanah lahan tanah pulau Lombok yang tentu saja membedakannya sehingga kangkung Lombok biasanya lebih segar, lebih hijau dan batangnya lebih besar dibandingkan dengan kangkung daerah lain.
Bahan utama menu ini terdiri atas kangkung khas Lombok yang di rebus lalu dibelah-belah, taoge, dan kacang. Sebagai pelengkap, ditambahkan sambal nyiuh (kelapa yang dibakar terlebih dulu kemudian diparut atau dioseng supaya tahan beberapa jam). Sambal pelecing dibuat dari bahan terasi bakar, cabe, tomat, sedikit garam dan disiram air jeruk limau.
Menikmati Pelecing Kangkung, harus siap-siap dengan sapu tangan untuk mengusap keringat yang membasahi wajah karena masakan ini cukup pedas, tetapi sekali menikmatinya akan berkesan lama


Ayam Taliwang
 
Pedas, itulah barangkali kesan pertama jika anda merasakan menu masakan-masakan tradisional di Pulau Lombok. Pencitraan itu bisa jadi karena kata Lombok dari pulau itu sendiri identik dengan rasa pedas. Masakan khas Pulau Lombok yang sudah sangat dikenal masyarakat luas, dan rasa pedasnya cukup menonjol diantaranya adalah ayam taliwang, baik ayam bakar maupun ayam goreng.
Masakan khas Pulau Lombok yang sudah sangat dikenal masyarakat luas, dan rasa pedasnya cukup menonjol diantaranya adalah ayam taliwang, baik ayam bakar maupun ayam goreng. Rasa daging ayam taliwang sendiri sebenarnya relatif sama dengan ayam pada umumnya, hanya berukuran sedikit lebih kecil. Tapi, ayam taliwang kemudian dikenal pedas karena sambal yang dilumurkannya sangat menggugah selera yang dalam istilah sebagian etnis Sasak (Lombok bagian utara) 'Manuk Pelalah'.
'Manuk Pelalah adalah ayam bakar atau goreng yang dibumbui dengan cabe besar dan cabe kecil kemudian digoreng dengan santan kelapa dan rasa yang paling menonjol adalah pedas. Bagi yang tidak begitu tahan dengan makanan pedas, dapat juga memesan dengan kadar pedas yg disesuaikan untuk mencicipi ayam goreng maupun ayam bakar ini.
Aroma pedas dari makanan-makanan yang sudah tersaji memang sangat mendominasi dan benar-benar menggugah selera. Menurut penuturan masyarakat setempat, sebelum dibakar, ayam taliwang yang merupakan ayam muda itu dibumbui sambal khas Lombok, minyak kelapa dan bawang putih. Setelah dibakar beberapa lama, selanjutnya dibumbui lagi, kemudian dibakar lagi untuk kedua kalinya. Dengan demikian, ayam Taliwang benar-benar terasa pedas.
Konon, ayam taliwang berasal dari nama kampung (karang) di Pulau Lombok yakni Karang Taliwang di wilayah Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Jadi, nama Taliwang dari masakan ayam taliwang bukan dari Ikubkota Sumbawa Barat yang kebetulan sama. Orang yang mempopulerkan masakan ayam bakar khas Lombok ini adalah Haji Murad (almarhum) dan istrinya, Salmah, dari Karang Taliwang. Usaha Haji Murrad itu pun kini dikembangkan oleh keturunannya dan juga warga Karang Taliwang lainnya.
Rumah makan Ayam Taliwang kini tidak hanya bisa ditemukan di NTB khususnya Lombok, tetapi sudah merambah ke beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Bali. Ayam taliwang memang makin populer di Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung dan di kota-kota besar lainnya. Tidak hanya restoran mentereng yang menjual menu khas Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, ini. Pedagang kaki lima pun kini bertebaran dimana-mana menjualnya. Namun, menikmati ayam taliwang di kampung asalnya, hmmm... tentu berbeda.
Soal rasa, boleh jadi masalah selera. Namun, patut dicatat, bumbu ayam taliwang yang dijual di kampung asalnya dibuat oleh orang yang sudah belasan tahun bahkan puluhan tahun meracik bumbu. Untuk menjaga keaslian bumbunya, pemilik warung makan di luar Karang Taliwang biasanya juga memesan bumbu dari Karang Taliwang.
Masing–masing warung makan sudah mempunyai peracik bumbu langganan yang diandalkan. Itulah mengapa setiap warung makan bermenu ayam taliwang di mana pun di Lombok selalu mengklaim rasa masakannya paling enak.
Ayam Taliwang merupakan menu andalan masyarakat Lombok yang merupakan ayam bakar yang dibumbu pedas khas Taliwang. Yang unik, ayam digunakan sebagai bahan dasar kuliner ini merupakan ayam kampung muda yang baru berusia 3-5 bulan. Tak heran ukurannya juga mungil seperti burung puyuh. Tapi rasanya gak mungil tidaklah semungil ukurannya. Resapan bumbu pedas dan sedikit manis akan terasa bahkan sampai tulang ayam ini. Benar-benar memanjakan para penikmat kuliner. Dan buat yang gak kuat pedes, bisa pesan juga agar bumbunya bisa dikurangi kadar pedasnya.
Beberapa restoran di Lombok sangat terkenal karena masih menyajikan bumbu asli. Bumbu yang benar–benar asli tentu berasa sangat pedas. Seiring dengan migrasi penduduk dari berbagai daerah luar NTB ke Lombok, mau tak mau makanan pun harus disesuaikan. Restoran pun berbenah, termasuk sedikit mengubah komposisi bumbu, disesuaikan dengan lidah pelanggan. Jika pelanggan kebanyakan orang Yogyakarta, misalnya, bumbu jadi berasa manis. Bagi orang Sasak atau Manado, misalnya, bumbu jadi kurang menggigit. Jika sudah begitu, biasanya warung menyediakan pula bumbu sangat pedas atau tambahan sambal.

Sate Bulayak 



Melihat sajian sate bulayak, sungguh sangat menggelorakan minat makan pastinya. Dengan menonjolkan santan dan rasa pedas pada setiap masakan adalah ciri ciri khas menu masakan yang tawarkan para pemilik warung sate bulayak di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Para penjual sate bulayak dapat anda temukan dengan mudah di sudut-sudut kota Mataram.
Dinamakan sate bulayak, karena sate di sajikan bersama lontong khas Lombok yang terbuat dari beras ketan. Lontong khas tersebut bernama bulayak. Di sinilah letak keunikannya, di mana sate yang dijual, selalu dipadukan dengan bulayak, sehingga menjadi satu paket menu yang menggiurkan untuk dicicipi. Daging sapi, atau ayam, dan atau jeroan jika sudah ditusuki, maka daging sudah siap dibakar/dipanggang sampai matang.
Sate yang dilumuri dengan bumbu khas Lombok akan disajikan dengan lontong bulayak. Bumbu tersebut terdiri dari kacang tanah sangrai tumbuk yang direbus bersama santan serta beberapa bumbu dapur lainnya. Rasa dari bumbu tersebut mirip seperti bumbu kari.
Sementara racikan bumbu, lebih menonjolkan rasa pedas, yang merupakan ciri khas masakan dari Lombok. Caranya dengan menambah porsi cabe keriting, lebih dari sepuluh persen dari takaran biasanya. Bumbu tersebut terdiri dari kacang tanah sangrai tumbuk yang direbus bersama santan serta beberapa bumbu dapur lainnya.
Bulayak ini mirip dengan lontong biasa, akan tetapi lebih mungil dengan bentuk mengerucut. Dibungkusnya pun tidak menggunakan daun pisang tetapi menggunakan daun aren dengan lilitan berbentuk spiral sehingga untuk membukanya harus dengan gerakan memutar. Sensasi yang diberikan bulayak ini juga berbeda, teksturnya yang lembut serta gurihnya (yang katanya karena penggunaan daun aren sebagai bungkusnya) memang bisa diberikan acungan jempol. Apalagi jika dicocol dengan bumbu kacang yang merupakan bumbu satenya.
Ternyata, perpaduan rasa pedas dan santan, yang menjadi ciri khas sate bulayak, membuatnya banyak disukai siapa saja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar